Padatahun 488 H Al-Ghazali pergi menunaikan ibadah haji yang kemudian dilanjutkannya mengunjungi Syam dan Baitul Maqdis kemudian ke Damaskus. Pada masa itulah ia mengarang kitab Ihyaโ€™ Ulumuddin. Pada masa itu hidup dengan amat sederhana, berpakaian kasar, mengurangi makan dan minum, banyak mengunjungi masjid dan ABSTRAKM. Faruq, 2016: Konsep Guru Menurut Al Ghazali dalam Kitab Ihyaโ€™ Ulumiddin. Pendidikan merupakan salah satu kunci pokok sebagai penggerak dan penentu kemajuan suatu bangsa dan negara. Komponen-komponen dalam pendidikan mempunyai pengaruh untuk peningkatan mutu pendidikan. Salah satu komponen yang mempunyai peran signifikan dalam Adabadab menuntut ilmu. Dengan kadar yang sepatutnya menurut Imam Al-Ghazali di dalam Kitab Al-โ€™Ilm, Ihyaโ€™ Ulumuddin. Bawalah buku nota dan pen untuk mencatat supaya tak lupa. Jangan tergesa-gesa dalam mendalami ilmu. Hormat guru dengan cara berkata yang baik-baik kepada mereka. Jangan sesekali sakitkan hati mereka. Keredaan guru ImamAl Ghazali juga menjelaskan tentang mursyid atau guru dan kewajiban seorang Islam yang harus dipenuhi dengan pengaturan pengajar dan pelajar (peserta didik). Dalam kitab Ihya โ€˜Ulumuddin beliau menyampaikan pemikirannya tentang etika guru dan murid dalam proses belajar mengajar, dalam hal ini beliau menjelaskan pada bagian ilmu yang AdabMembaca Al QuranImam Alghazali didalam kitabnya Ihya Ulumuddin menguraikan bagiamana tatacara membaca Al Quran: Adab batin dan adab lahirAdab batin yaitu dengan hati dan jiwa: Bagimana cara hati membesarkan kalimat Allah SWT. Pada tahun 2000 guru Al-Qurโ€™an bertambah 1 (satu) orang dan mengadakan Khotaman/Wisuda pertama ImamSubuki dalam Thabaqat Asy Syafiโ€™iyah (Lihat 6/287-288) telah mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Al Ihyaโ€™ dan menemukan 943 hadits yang tidak diketahui sanadnya. Abul Fadhl Abdurrahim Al Iraqi mentakhrij hadits-hadits Al Ihyaโ€™ dalam kitabnya, Al Mughni An Asfari Fi Takhrij Ma Fi Al Ihya Minal Akhbar. . Terbit 25 October 2021 Oleh Kategori Ihya 'Ulumuddin Tata krama atau adab yang semestinya dijalankan oleh para guru dan murid adalah sebagai berikut KEWAJIBAN SEORANG MURID Pertama Menjaga diri dari kebiasaan rendah diri dan perilaku tercela. Rasulullah SAW bersabda, โ€œAgama ditegakkan atas kebersihan. Maka kebersihan lahir dan kesucia batin dibutuhkanโ€. Usaha murid untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan adalah amalan hati. Sholat dan ibadah fardhu ain lainnya dikerjakan oleh tubuh, sedangkan untuk memperoleh ilmu dari seorang guru tidak dapat dicapai tanpa menyingkirkan kebiasaan buruk dan sifat-sifat jahat. Ibnu Masโ€™ud RA pernah berkata, โ€œIlmu tidak diraih dengan banyak belajar. Ia adalah Cahaya nur yang dipancarkan ke dalam dadaโ€. Kedua Mengurangi keterpautannya pada urusan duniawi semata dan berusaha mencari tempat belajar yang jauh dari kerabat dan kampung halaman karena ilmu tak mungkin diperoleh di lingkungan yang demikian. Ketiga Bersikap tawadhuโ€™ atau tidak meninggikan diri dihadapan gurunya. Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan kesederhanaan dan kerendahan hati. Apa saja yang dianjurkan oleh guru, murid harus mengikutinya dan mengesampingkan pendapat pribadinya. Murid hanya boleh bertanya perihal perkara yang diijinkan oleh gurunya saja. Keempat Ia tidak terlalu memberikan perhatian kepada perbedaan antara ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi, karena itu bisa menggerus hatinya hingga kehilangan semangat untuk mempelajari ilmu. Ia pertama-tama harus mengindahkan ucapan gurunya dan tidak boleh mempermasalahkan berbagai mazhab. Kelima Tidak boleh meninggalkan satu cabang ilmupun. Ia harus bersemangat untuk mempelajari berbagai cabang ilmu karena setiap cabang ilmu sesungguhnya saling membantu dan berhubungan erat. Keenam Tidak boleh mempelajari atau mendalami beberapa atau semua cabang ilmu dalam satu waktu. Ia harus mempelajari dahulu ilmu yang terpenting bagi kehidupannya. Sedikit ilmu jika diperoleh dengan semangat dan gairah, Insya Allah akan menyempurnakan hati kita untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Ilmu yang tertinggi dan termulia adalah ilmu mengenal Allah maโ€™ rifatullah. Ketujuh Tidak boleh mendalami cabang ilmu baru hingga ia menguasai dengan baik cabang ilmu sebelumnya. Satu cabang ilmu umumnya menjadi pengatur dan penuntun bagi cabang ilmu lainnya. Kedelapan Mengetahui sebab-sebab suatu ilmu mulia dikenal. Suatu ilmu yang mulia dapat dikenali dari dua hal yaitu kemuliaan hasilnya dan Kekuatan prinsip-prinsipnya. Sebagai contoh pada ilmu agama dan ilmu kedokteran. Hasil dari agama adalah untuk mendapatkan kehidupan yang kekal dan hasil dari ilmu kedokteran adalah memperoleh kehidupan sementara di dunia. Dari sini tampak jelas bahwa ilmu dengan hasil mengenal Allah, Rasul-Nya, malaikat-Nya, kitab-Nya adalah ilmu yang paling mulia, demikian pula dengan cabang-cabang ilmu penunjangnya. Kesembilan Mempercantik hati dan tindakan dengan kebajikan, menggapai kedekatan dengan Allah SWT dan malaikat-Nya serta bersahabat dengan orang yang dekat dengan Allah SWT. Derajat tertinggi iman seseorang dimiliki oleh para Nabi, kemudian para Wali, lalu para Alim Ulama yang mendalam ilmunya, dan terakhir orang-orang saleh yang mengikutinya. Kesepuluh Memusatkan perhatian pada tujuan utama ilmu. Dunia dan seisinya beserta tubuh ini sudah selayaknya dijadikan kendaraanโ€™ untuk menggapai tujuan utama ilmu yang kita pelajari kelak, yaitu Allah SWT dan tidak ada apapun selain Allah SWT. KEWAJIBAN SEORANG GURU Seseorang yang dikaruniai ilmu yang mendalam, dicerminkan dengan tindakan yang mulia dan mengajarkannya kepada orang lain dipandang lebih mulia daripada para malaikat langit dan bumi. Mereka ini diibaratkan seperti matahari yang menyinari diri sendiri dan memberikan sinarnya kepada alam semesta. Manusia seperti ini laksana kesturi, ia sendiri berbau harum namun juga menebarkan keharumannya kepada orang lain. Orang seperti inilah yang layak dijadikan Guru. Pertama Memperlihatkan kebaikan, simpati dan bahkan empati kepada para muridnya dan memperlakukan mereka seperti anaknya sendiri. Seorang Guru adalah sebab dari kehidupan kekal kelak. Karena ajaran para Guru inilah murid akan mengetahui dan ingat akan kehidupan akhirat. Seorang Guru dinilai akan membinasakan diri dan juga muridnya apabila ia mengajar demi dunia ini. Guru yang berorientasi akhirat tidak akan punya rasa benci, iri dan dengki terhadap muridnya dan siapapun juga. Kedua Mengikuti teladan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Ia tidak boleh mencari imbalan dan dan upah di dalam mengajar selain mendekatkan diri kepada Allah dan mentauladani apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Ketiga Tidak boleh menyembunyikan nasihat atau ajaran untuk diberikan kepada murid-muridnya. Setelah selesai menyampaikan ilmu-ilmu lahiriyah, seorang Guru haruslah menyampaikan ilmu-ilmu batiniah bahwa tujuan Pendidikan adalah mendekat kepada Allah SWT, bukan mengejar kekuasaan atau kekayaan. Keempat Mencegah murid-muridnya dari memiliki watak dan perilaku jahat dengan penuh kehati-hatian dan dengan cara sindiran, dengan cara simpati bukan keras dan kasar. Kelima Tidak boleh merendahkan ilmu lain dan Guru lain dihadapan para muridnya. Seharusnya Guru suatu ilmu tertentu menyiapkan murid-muridnya untuk belajar lanjutan ilmu-ilmu lainnya dan seterusnya, sehingga tidak punya waktu untuk menceritakan hal yang tercela terkait ilmu lain dan Guru lain. Keenam Mengajarkan murid-muridnya hingga batas kemampuan pemahaman mereka. Apa yang diketahui seorang Guru tidak mesti semuanya disampaikan kepada murid-muridnya sekaligus. Kebijaksanaan lebih bernilai daripada permata sekalipun. Ada peringatan bahwa lebih baik menjaga ilmu dari orang-orang yang bisa menjadi hancur karena memilikinya. Memberikan sesuatu kepada orang yang tidak berhak atas suatu ilmu sama atau tidak memberikannya kepada orang yang berhak adalah sama-sama zalim. Ketujuh Mengajarkan kepada para murid yang terbelakang hanya sesuatu yang jelas dan sesuai dengan tingkat pemahamannya yang terbatas tersebut. Orang acapkali mengira bahwa kebijaksanaan, ilmu dan tindakannya sempurna. Orang terbodoh adalah orang yang merasa puas dengan diri dan pengetahuannya serta menganggap bahwa akalnya sempurna. Kedelapan Guru haruslah mempraktekkan apa yang diajarkan dan tidak boleh berbohong dengan apa yang disampaikannya. Guru dapat diibaratkan seperti tongkat dan murid adalah bayangan dari tongkat tersebut. Bagaimana mungkin bayangan sebatang tongkat bisa lurus apabila tongkat itu sendiri bengkok? ุงูŽู„ู„ูŽู‘ู‡ูู…ูŽู‘ ุตูŽู„ูู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุณูŽูŠูู‘ุฏูู†ูŽุง ู…ูุญูŽู…ูŽู‘ุฏู Klik disini apabila ingin memiliki kitabnya Abstrak Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka library research, penelitian yang obyek utamanya adalah buku-buku atau sumber kepustakaan tentang kitab Ayyuhal Walad, karya Imam al Ghazali. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang menggambarkan sifat-sifat atau karakteristik individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Hasil penelitian, pertama, konsep pendidikan karakter merupakan gambaran tentang hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaa pendidikan karakter, baik terkait dengan definisi pendidikan karakter, tujuan pendidikan karakter dan nilai-nilai pendidikan karakter. Kedua,karakter atau akhlak menurut al-Ghazali adalah suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan dan pengalaman dengan mudah, tanpa harus direnungkan dan redaksi lain, al-Ghazali juga berpendapat Pendidikan karakter adalah sebuah proses pembersihan jiwa. Dari jiwa yang bersih lahir perilaku yang baik, seperti jujur, dermawan, dan sabar. Ketiga, pendidikan karakter dalam kitab Ayyuhal Walad berisi nasihat al-Ghazali kepada muridnya yang meminta nasihat khusus, secara garis besar membehas tentang masalah akhlak kepada Allah, akhlak seorang pendidik, akhlak seorang pelajar, dan akhlak dalam pergaulan. Tujuan dari pembahasan pendidikan akhlak dalam kitab ini untuk mencetak pribadi yang baik, bermoral dan lebih mengutamakan kepentingan Allah Syariโ€™at daripada yang lainnya. Dan juga untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. di dunia maupun di akhirat. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 150 ANALISIS MATERI AKHLAK MENGENAI ADAB GURU DAN ADAB MURID DALAM KITAB BIDAYATUL HIDAYAH UNTUK MEMBINA KARAKTER SISWA MI Iim Fitriyani1.. Asis Saefuddin 2. Sani Insan Muhamadi 3 1Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 2Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 3Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung E-Mail Iimfitiyani05 Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya adab di kalangan pelajar dan pendidik di Indonesia. Banyak kasus-kasus yang beredar di beberapa tayangan televisi dan media cetak tentang banyaknya pelajar yang tidak mempunyai sopan santun kepada gurunya dan berbagai tindakan menyimpang guru terhadap muridnya. Tujuan penelitian ini adalah agar guru dan murid mampu menerapkan adab-adab dalam kitab Bidayatul Hidayah, terutama di lingkungan sekolah. Metode yang digunakan adalah metode kepustakaan Library research. Metode ini merupakan metode yang berkaitan dengan pengumpulan data dengan cara membaca, menelaah, menganalisis dan lebih menekankan pada analisis yang bersifat deskriptif, teoritis dan filosofis serta tidak perlu turun ke lapangan untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian ini menunjukkan ada beberapa adab yang harus dimiliki oleh seorang guru dan murid berdasarkan dalam kitab Bidayatul Hidayah. Selain itu, seorang guru Muallim harus memiliki sifat yang berwibawa dan mampu membimbing muridnya. Sedangkan KD dan KI yang ada di dalam buku Akidah akhlak kelas satu MI menunjukkan kesesuaian kitab Bidayatul Hidayah mengenai adab-adab yang harus dilakukan oleh seorang murid kepada gurunya, dengan materi akidah akhlak yang ada di Madrasah Ibtidaiyah kelas satu ini. Kitab bidayah bisa digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. Hal ini dapat diimplementasikan ketika proses belajar mengajar, seperti berbicara saat diskusi dan bertanya. Kata kunci Adab Guru dan Murid, Kitab Bidayatul Hidayah, Membina Karakter Siswa MI Abstract This research was motivated by the low level of manners among students and teachers in Indonesia. Many cases are circulating on several television shows and printed media about, many students who do not have manners to their teachers and also several teachersโ€™ deviant behaviors towards their students. The aim of this research was to make teachers and students be able to apply the manners contained in Bidayatul Hidayah book, especially in the school environment. The method used was library research method. This method is a method related to data collection by reading, studying, analyzing and more emphasizingAL-TARBIYAH JURNAL PENDIDIKAN The Educational Journal Vol. 30 No. 2, December 2020 Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-160 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 151 on the analysis that is descriptive, theoretical and philosophical in nature and going to the field to collect data is not needed. The results of this study indicate that there are several manners that must be possessed by teachers and students according to Bidayatul Hidayah book. Beside that, a teacher Muallim must have an authoritative character and be able to guide his students. Meanwhile, the Basic Competencies KD and Core Competencies KI in the first grade of Madrasah Ibtidaiyah's Akidah morals book show the suitability of the Bidayatul Hidayah book regarding the manners that must be carried out by a student to his teacher, with the material of akidah morals in the first grade of Madrasah Ibtidaiyah. Bidayah book can be used as a teaching material at school. This can be implemented during the teaching and learning process, such as speaking in discussions and asking questions. Keywords Manners of teachers and students, Bidayatul Hidayah book, Guiding characters of Madrasah Ibtidaiyahโ€™s students PENDAHULUAN Pendidik dan peserta didik memiliki peran yang sangat penting dalam keberlangsungan pendidikan, dan merupakan kunci bagi berlangsungnya kegiatan pendidikan. Meskipun tidak tersedia bangunan kelas, laboratorium, gedung olah raga dan peralatan sekolah yang cukup memadai, proses pendidikan akan tetap berjalan meskipun melewati beberapa kendala. Namun, apabila tidak ada pendidik dan peserta didik, proses pendidikan tidak akan berlangsung Nata, 2001. Pendidik merupakan orang yang memberikan sesuatu berupa ilmu pengetahuan, pengalaman, keterampilan, kepada seseorang di lingkungan sekitar, baik lingkungan sekolah, keluarga ataupun masyarakat Maragustam, 2010. Pendidik menjadi unsur penunjang berhasilnya proses pembelajaran dan akan menghasilkan generasi yang unggul dan peserta didik murid. Keduanya merupakan komponen yang sangat penting dalam suatu lembaga Pendidikan. Salah satu aspek yang berkaitan dan harus diperhatikan adalah adab. Adab merupakan salah satu inti dari pendidikan karena apabila kita menggunakan adab dalam kehidupan maka nilai kebaikan akan tertanam dalam diri kita dan akan menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur Al-Attas, 1992. Hubungan antara guru dan murid memiliki peran yang sangat penting bagi berlangsungnya proses pembelajaran dan tercapainya tujuan pendidikan dan menciptakan generasi yang bekarakter. Hubungan yang harmonis antara guru dan murid pada saat proses pembelajaran berlangsung diperlukan, begitupun sebaliknya. Dengan demikian baik guru maupun murid harus memakai adab atau etika baik pada saat pembelajaran berlangsung maupun di luar jam pelajaran Abdullah, 2016. Adab dan akhlak merupakan satu kesatuan yang yang saling berkaitan. Apabila kita memiliki adab yang baik, baik itu kepada Allah Swt, orang tua, guru dan kepada saudara kita yang lain, akhlak yang kita miliki akan baik. Dengan adab seseorang muslim akan terlihat mulia dihadapan Allah SWT dan Rasul-Nya begitupun di hadapan manusia. Hanafi, 2017. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Abdullah, 2016 jelas bahwa suatu pendidikan Islam memiliki empat unsur yaitu pendidik, peserta didik, tujuan dari pendidikan itu sendiri, serta adab yang digunakan dalam proses pembelajaran tersebut. Unsur-unsur tersebut merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Apabila salah satu dari ke-empat unsur tersebut tidak ada atau hilang Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 152 maka suatu pendidikan tidak akan berjalan dengan lancar dan hilang pula hakikat dari pendidikan itu sendiri. Kurangnya adab pada zaman sekarang ini berpengaruh terhadap karakter siswa. Banyak sekali kasus-kasus yang beredar di beberapa tayangan di televisi dan media cetak mengenai perilaku atau perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral, misalnya perbuatan yang dilakukan oleh seorang guru ataupun seorang murid seperti banyaknya siswa maupun mahasiswa yang tidak mempunyai sopan santun dalam berbicara kepada gurunya, berperilaku menyimpang, dan memakai pakaian yang tidak sesuai dengan anjuran Islam, dan melanggar akhlak. Hal ini menunjukan kurangnya moral, akhlak dan adab seseorang Noer & Sarumpaet, 2017. Perbuatan tersebut sangat menunjukan kurangnya bimbingan karakter ataupun akhlak yang dimiliki oleh seseorang. Karena selama ini proses pembelajaran yang berlangsung lebih menitik beratkan pada kemampuan kognitif saja, ranah karakter tidak diperhatikan dengan sangat jeli Ainiyah, 2013. Menurut Muhamadi, 2015 krisis karakter masih menjadi permasalahan utama bangsa ini, karena pembinaan moral yang kurang dan lunturnya sikap kepedulian sosial. Salah satu yang harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut selain orang tua yaitu lembaga pendidikan. Pengembangan karakter moral pribadi anak merupakan prasyarat penting untuk kelanjutan peradaban, dan pendidikan merupakan komponen pentig dari proses tersebut Gogo, 2020. Kita dapat melihat kasus-kasus yang terjadi akibat tidak adanya adab atau sopan santun yang baik, baik dari seorang guru ataupun murid, sehingga interaksi antara guru dan murid tidak berlangsung baik dan akan mengganggu proses dan tujuan pembelajaran. Ada guru yang berbuat tidak pantas kepada muridnya, ada yang menyiksa muridnya. Begitupula dengan murid yang berkelahi dengan sesama temannya dan ada juga murid yang meyiksa guru nya. Hal ini sudah sangat jelas bahwa kurangnya adab yang mereka miliki, sehingga berdampak pula pada perilaku atau karakter yang dimiliki oleh setiap individu. Diantara contoh yang menunjukan kurangnya hubungan yang baik antara guru dan murid yang terjadi disekitar kita, misalnya seorang Guru SMAN 1 Torjun yang tewas akibat dipukuli oleh muridnya Ramadhan, 2018. Hal ini bukan sepenuhnya kesalahan siswa tetapi ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, misalnya, kurangnya guru dalam melakukan pendekatan kepada siswa yang memiliki perilaku menyimpang. Pembahasan adab guru dan murid telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan Islam terdahulu, salah satunya ialah Imam Al-Ghazali yang membahas tentang adab guru dan murid dalam kitab yang di tulisnya yaitu Bidayatul Hidayah. Kitab Bidayatul Hidayah ini membahas tentang amalan-amalan yang harus dilaksanakan oleh umat muslim dengan diperkuat oleh ilmu tasawuf. Maka dari itu penulis tertarik untuk mengkaji ulang pemikiran dari Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah mengenai adab yaitu sopan santun berinteraksi yang harus dilakukan oleh guru maupun murid pada saat pembelajaran maupun diluar pembelajaran, agar tujuan pendidikan dapat berjalan lancar dan menciptakan generasi yang berkarakter. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini pendekatan yang digunakan peneliti adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitiatif merupakan penelitian yang berlandaskan pada teori-teori naturalistik yang artinya penelitian yang dilakukan pada kondisi alamiah dan peneliti berperan sebagai instrumen Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 153 kuncinya dan tidak dapat diselesaikan dengan uji statistik Sugiyono, 2017. Sedangkan metode yang digunakan peneliti adalah metode kepustakaan Library research. Metode kepustakaan ini merupakan metode yang berkaitan dengan pengumpulan data dengan cara membaca, menelaah, menganalisis, dan pengolahan dengan menggunakan metode kepustakaan ini lebih menekankan pada analisis yang bersifat deskriptif, teoritis dan filosofis. Dalam metode kepustakaan ini peneliti tidak perlu turun ke lapangan untuk dapat menghasilkan dan mengumpulkan data. Peneliti cukup menggunakan bahan-bahan kepustakaan seperti buku ataupun bahan kepustakaan yang lainnya sebagai data untuk diteliti. Instrumen utama pada penelitian ini adalah manusia sebagai peneliti yang artinya peneliti harus memperhatikan kemampuan yang dimilikinya dalam hal bertanya, mencari tahu, melacak, mengamati bahkan memahami suatu objek yang akan diteliti Zed, 2008. Jenis data dalam penelitian ini merupakan data kualitatif. Data kualitatif ini merupakan data yang disajikan dengan berbentuk narasi atau uraian bukan dalam bentuk angka yang dapat diuji dengan melalui prosedur statistik Helaluddin & Wijaya, 2019, sedangkan sumber datanya bersumber dari data primer dan skunder. Ddata primernya adalah kitab Bidayatul hidayah dan data sekunder dalam penelitian ini akan lebih banyak menggunakan sumber-sumber berupa buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian Sugiyono, 2017. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik studi dokumentasi, dimana teknik ini dilakukan dengan cara menganalisis dokumen ataupun kuisioner, yang berupa studi dokumentasi. Studi dokumentasi ini merupakan sumber dokumen yang berbentuk sumber tertulis, file, gambar foto, karya-karya yang berkaitan dengan penelitian dan mampu memberikan informasi bagi proses penelitian. Penggunaan dokumen ini, berkaitan dengan content analysis isi dan makna dari sebuah dokumen. Menurut menurut Bungin 2008 penggunaan dokumen serta pemanfaataannya dari dokumen tersebut sangat bepengaruh dalam proses penelitian dan dapat menentukan tingkat kredibilitas suatu hasil penelitian kualitatif. Untuk memvalidasi data yang digunakan, triangulasi sumber digunakan. Triangulasi sumber bertujuan untuk mengecek dan mengetahui data yang telah diperoleh dari beberapa sumber yang ada. Tahapan yang terakhir adalah teknik dalam menganalisis data. Tahapan tersebut terdiri dari reduksi data mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskaan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya, penyajian data dan penarikan kesimpulan dari data yang telah diolah Sugiyono, 2017. HASIL DAN PEMBAHASAN Kitab Bidayatul Hidayah di tulis oleh Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Imam Al-Ghazali merupakan seorang tokoh pemikir muslim yang hidup pada bagian akhir dari zaman keemasan di bawah khilafah Abbasiyah yang berpusat di Bagdad. Imam Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad bin Muhammad Thaus Ahmad al-Thusi Al-Syafiโ€™i. Ia terkenal dengan sebutan Hujjatul islam dan zainuddin yang mempunyai arti โ€œkebenaran Islamโ€. Al-Ghazali diberi gelar al-imam karena beliau merupakan sosok ulama yang menjadi panutan, contoh, dan teladan bagi banyak orang. Gelar al-Imam al-allamah ini menunjukan bahwa tingkat keilmuan yang dimiliki oleh Al-Ghazali tidak hanya alim tetapi juga beliau merupakan Al-allamah yang mampu menguasai berbagai bidang, sedangkan gelar Hujjatul Islam menunjukkan bahwa imam Al-Ghazali merupakan sosok yang mempunyai pengetahuan yang luas Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 154 mengenai sunnah-sunnah Nabi Nasif, 2018. Selain mengemban amanah sebagai guru besar dan seorang sufi, imam Al-Ghazali merupakan seorang penulis yang luar biasa sehingga menciptakan karya-karya yang sangat luar biasa dan sangat produktif. Pada dasarnya tidak terlalu pasti berapa jumlah buku-buku atau karya yang ditulis oleh imam Al-Ghazali tetapi sebagian penelitian mengatakan hampir 100 buku tentang ilmu pengetahuan yang ditulis oleh Imam-al-Ghazali, diantaranya seperti ilmu kalam, ilmu fikih, ilmu tasawuf, ilmu filsafat akhlak dan autobiografi. Kitab Ihyaul Ulumuddin dan Bidayatul Hidayah merupakan salah dua kitab yang sangat terkenal yang dikarang oleh Imam Al-Ghazali. Kitab Bidayatul Hidayah ini sering disebut sebagai pembukaan, permulaan atau dalam bahasa arab sering disebut dengan muqadimah dari kitab Ihya Ulumuddin. Dalam kitab Bidayatul Hidayah ini Imam Al-Ghazali ingin menunjukan kepada kita selaku umat muslim mengenai permulaan-permulaan hidayah, agar dapat melatih hawa nafsu dengan baik dengan mengamalkan seluruh isi kitab dan mampu mengukur pengakuan kita dengan cara istiqamah terhadap ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab Bidayatul Hidayah yang kemudian diimplementasikan atau diamalkan dalam kehidupan sehari hari dan juga melalui majelis-majelis ilmu agar seluruh umat muslim mengetahui hal apa saja yang harus dilakukan sebagai seorang muslim Mutamakkin, 2012. 1. Adab guru dan murid dalam kitab Bidayatul Hidayah Dalam kitab Bidayatul Hidayah Mutamakkin, 2012 ada beberapa adab yang harus diterapkan oleh seorang guru dan murid, terutama pada saat pembelajaran. Berikut ini merupakan adab-adab yang harus amalkan oleh seorang guru dan murid pada bagian ke tiga dalam kitab Bidayatul hidayah mengenai beradab kepada Allah swt dan bergaul dengan para makhlik-Nya yang didalamnya terdapat adab seorang guru dan murid. Adab tersebut seperti ditampilkan dalam tabel berikut ini. Tabel 1. Adab guru dalam kitab Bidayatul Hidayah Adab Guru dalam Kitab Bidayatul Hidayah ๎˜ƒ๎ ‘๎Ÿช๎˜ƒ๎ ‘๎ฃง๎ชŸ๎˜ƒ๎ ๎ฃ—๎˜ƒ๎ ๎คซ๎˜ƒ๎ Ž๎ ƒ๎˜ƒ๎ฃ…๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎ ‡๎˜ƒ๎ Ž๎คค๎˜ƒ๎ Ž๎ฃด๎˜ƒ๎ ‘๎ ‡๎˜ƒ๎ ‘๎คค๎Ÿช๎˜ƒ๎ „๎˜ƒ๎ ๎ฃช๎˜ƒ๎ ๎ ‘๎ทป๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎ท„๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ‘๎Ÿช๎˜ƒ๎ Ž๎ชŸ๎˜ƒ๎ Ž๎คช๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ‘๎คธ๎˜ƒ๎ ๎Ÿต . Seorang guru harus selalu bersabar atas kejadian yang terjadi pada saat pembelajaran Selalu bersikap tenang dalam kondisi apapun ๎˜ƒ๎ ๎Ÿช๎˜ƒ๎ ‘๎คค๎˜ƒ๎ Ž๎ฃค๎˜ƒ๎ Ž๎คง๎˜ƒ๎ ‘๎คธ๎˜ƒ ๎ Ž๎Ÿท๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎ฌด๎˜ƒ๎ ‘๎คค๎ ๎คถ๎˜ƒ๎ ‘๎คพ๎˜ƒ๎ ๎ฃ‹๎˜ƒ๎ ๎ฃ๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎คŠ๎˜ƒ๎ ‘๎ ๎ถ† ๎˜ƒ๎ธ„๎˜ƒ๎ ๎ฃ‘๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ‘๎คค๎Ÿช๎˜ƒ๎ ๎คธ๎˜ƒ๎ ๎คœ๎˜ƒ๎ ๎Ÿต๎ฃ…๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎คช๎˜ƒ๎ ๎คˆ๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎Ÿช๎˜ƒ๎ ‘๎คƒ๎˜ƒ๎ ๎ฃฒ๎˜ƒ๎ ๎ ๎Ÿช๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ชง๎ฃฒ๎คค๎Ÿช๎˜ƒ๎ชญ๎Ÿซ๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎Ÿท. Selalu duduk dengan terhormat dan berwibawa serta menundukan kepalanya. Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 155 Adab Guru dalam Kitab Bidayatul Hidayah ๎˜ƒ๎ ๎ ‡๎˜ƒ๎ ๎ฃ”๎˜ƒ๎ ‘๎ฃฒ๎˜ƒ๎ ๎ ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ชง๎ฃ•๎คค๎Ÿช๎˜ƒ๎ ๎คข๎˜ƒ๎ ๎ Ž๎ฑด๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎คŠ๎˜ƒ๎ ๎ ๎ตŸ๎˜ƒ๎ธ„๎˜ƒ๎ ‘๎คพ๎˜ƒ๎ ๎คˆ๎˜ƒ๎ธ„๎คŠ๎˜ƒ ๎ ๎ชŸ๎ชง๎Ÿช๎˜ƒ๎ ๎Ÿณ๎˜ƒ๎ฃ…๎ ๎ฃ‹๎ ๎ค‹๎คค๎Ÿช ๎˜ƒ๎ ๎ ‘๎ทป๎ค‡๎คค๎Ÿช๎˜ƒ๎ ๎คฌ๎ ๎ค‰๎˜ƒ๎ ‘๎คฉ๎ Ž๎คถ๎คค๎˜ƒ๎Ÿช๎ Š๎ฃฒ๎ฃ ๎Ÿถ๎˜ƒ๎ ๎ฃ๎ ๎คซ๎คง๎ชฅ๎ค‡๎คค๎Ÿช ๎˜ƒ๎ ๎ ‡๎Ÿช๎˜ƒ๎ ‘๎คป๎˜ƒ๎ ๎Ÿต๎ฃ…๎ ๎ฃœ๎˜ƒ๎ ๎คˆ๎ Ž๎ค€๎ ๎คธ๎ ๎ฃ•๎คค๎Ÿช๎Ÿช meninggalkan sikap takabur sombong dan bersikap tawadhu, terkecuali kepada orang-orang yang berbuat dzalim. ๎˜ƒ๎ ๎ ‡๎˜ƒ๎ ๎ฃ”๎˜ƒ๎ ‘๎ฃฒ๎˜ƒ๎ ๎ ‚๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ‘๎คค๎Ÿช๎ ๎คถ๎˜ƒ๎ ‘๎ฃด๎˜ƒ๎ ๎ ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎ ‡๎˜ƒ๎ชง๎ทฑ๎Ÿช๎˜ƒ๎˜ƒ๎˜ƒ๎ ๎คŠ๎˜ƒ๎ ๎ฃˆ๎˜ƒ๎ฃ…๎˜ƒ๎ ๎ฃ . Tidak bercanda dan bermain main ketika proses belajar mengajar Bersikap lemah lembut kepada murid. Selalu mengingatkan dan membimbing para siswanya yang belum mengerti dan memahami yang telah disampaikan dan tidak boleh marah kepada siswa yang belum memahami Tabel 2. Adab murid dalam kitab Bidayatul Hidayah Adab Murid dalam Kitab Bidayatul Hidayah Mendahului mengucapkan salam dan memberikan penghormatan Menyedikitkan berbicara dihadapan gurunya Tidak boleh bertanya ketika seorang guru sedang berdiri ataupun sedang berjalan. Tidak boleh berbicara sebelum guru bertanya Dan tidak boleh bertanya sebelum meminta izin kepadanya Tidak boleh menyampaikan perkataan yang menentang pendapat guru Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 156 Adab Murid dalam Kitab Bidayatul Hidayah Tidak bermusyawarah dengan seseorang dihadapan guru dan tidak menoleh ke berbagai arah Jangan berburuk sangka dan membicarakan rahasia guru Ketika seorang guru bangkit dari tempat duduknya, maka seorang murid tidak boleh menarik bajunya Tidak mencari kesalahan-kesalahan guru Seorang murid ikut berdiri ketika guru berdiri, seolah-olah memberi penghormatan Tidak banyak tertawa dan tersenyum di hadapan seorang guru dalam kondisi apapun Selalu memuliakan guru dalam kondisi apapun Senantiasa memaafkan guru ketika melakukan kesalahan, karena sorang guru juga manusia dan pasti melakukan kesalahan 2. Kesesuaian Materi Akhlak Mengenai Adab Guru dan Murid Dengan Materi Akidah Akhlak di MI Kelas 1 satu Adab guru dan murid pada dasarnya memang harus dipelajari dan diterapkan pada saat proses pembelajaran. Hal ini juga berkaitan dengan materi akidah akhlak yang ada di kelas satu Madrasah Ibtidaiyah yaitu pada Kompetensi Inti KI 2. memiliki prilaku jujur, disiplin, tanggung jawab , santun, peduli dan percaya diri dengan berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru dengan Kompetensi Dasar KD Membiasakan sikap ramah dan sopan terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya pada KI 3. siswa diharapkan memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati mendengar, melihat, membaca dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah dengan KD siswa memahami sikap ramah dan sopan santun terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari. Pada KI 4. siswa menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 157 yang estetis, dalam perbuatan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia dengan KD siswa mencontohkan sikap ramah dan sopan santun terhadap orang tua dan guru dalam kehidupan sehari-hari juga menunjukkan kesesuaian antara materi akidah akhlak dengan adab guru dan murid. Dari pemaparan tersebut siswa diajarkan untuk bersikap sopan terhadap guru dan orang tua, hal ini sesuai dengan bagian ketiga dalam kitab Bidayatul Hidayah mengenai adab-adab yang harus dilakukan ketika berinteraksi dengan Allah SWT dan makluk-Nya, seperti halnya seorang murid kepada gurunya. Hal ini menunjukkan kesesuaian antara materi akidah akhlak di MI dengan bagian ketiga dalam kitab Bidayatul Hidayah mengenai adab-adab yang harus dilakukan ketika berinteraksi dengan Allah Swt dan makluk-Nya terutama adab guru dan murid dalam kitab Bidayatul Hidayah serta beradab kepada orang tua. Dengan materi akidah akhlak yang ada di Madrasah Ibtidaiyah kelas satu, otomatis kitab Bidayah dapat digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. 3. Implementasi Adab Guru dan Murid dalam Kitab Bidayatul Hidayah terhadap Pembinaan Karakter di Sekolah Implementasi adab murid dalam pembinaan karakter di sekolah pada saat proses pembelajaran diantaranya a. Saat berdiskusi dengan seorang guru, berdiskusi dengan guru merupakan salah satu hal yang harus dilakukan oleh seorang siswa agar mampu mengetahui informasi yang baru dan mampu memecahkan masalah sama-sama. Diskusi ini merupakan salah satu tahapan dari saintifik learning, dari mulai mengamati pembelajaran, bertanya kemudian diskusi. Dalam diskusi tidak hanya diskusi saja tetap ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh siswa. Hal ini seperti yang tertera dalam kitab Bidayatul Hidayah halaman 93 yaitu pada saat berdiskusi siswa tidak boleh menyalahkan apa yang di paparkan oleh seorang, berkomentar boleh asalkan atas izin dari guru. Hal tersebut harus diterapkan agar diskusi berjalan dengan lancar. b. Saat bertanya pada saat proses pembelajaran, bertanya merupakan salah satu hal yang sangat dianjurkan dalam proses pembelajaran, karena bertanya bisa membantu memahami hal yang belum dipahami. Tidak hanya itu, bertanya juga merupakan salah satu bagian dari saintifik learning. Dalam hal ini seorang murid tidak seenaknya dalam bertanya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat ingin bertanya kepada guru seperti seorang murid tidak boleh bertanya sebelum guru memerintakahkan untuk bertanya, ketika ingin bertanya alangkah baiknya murid mengacungkan tangan sebagai tanda bahwa murid meminta izin untuk bertanya. c. Ketika pembelajaran berlangsung, seorang murid sangat tidak dianjurkan untuk mengobrol dengan teman sebangkunya apalagi disertai dengan suara yang bergemuruh sehingga bisa mengganggu orang lain. Hal ini harus diperhatikan sekali karena kebanyakan siswa sering melakukan tindakan sepert itu dan memang harus ada ketegasan dan contoh dari tenaga pendidiknya. Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 158 SIMPULAN Kitab Bidayatul Hidayah membahas beberapa adab yang harus dimiliki dan diterapkan oleh seorang guru. Adapun adab-adab yang harus diperhatikan oleh seorang guru diantaranya pertama seorang guru harus selalu bersikap sabar atas kejadian yang terjadi pada saat pembelajaran, kedua guru selalu bersikap tenang dalam kondisi apapun, ketiga selalu duduk dengan terhormat serta menundukan kepalanya, yang ke empat guru menjadi sosok guru yang mempunyai wibawa, kelima guru meninggalkan sikap takabur sombong dan harus bersikap tawadhu, terkecuali kepada orang-orang yang berbuat dzalim, keenam guru tidak bercanda dan bermain main ketika proses belajar mengajar, ketujuh bersikap lemah lembut kepada murid seolah-olah mereka adalah anak sendiri, dan kedelapan guru selalu mengingatkan dan membimbing para siswanya yang belum mengerti dan memahami materi yang telah disampaikan. Sedangkan adab yang harus dimiliki oleh seorang murid dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya pertama salam kepada seorang guru, kedua adab berbicara terhadap gurunya, ketiga adab adab bertanya kepada guru, keempat adab ketika berdiskusi dengan guru, kelima adab bhatiniyah terhadap guru, dan keenam adab lahiriah ketika seorang murid berada bersama sang guru. Adab adab tersebut bisa di implementasikan di sekolah pada saat proses pembelajaran berlangsung, seperti pada saat berdiskusi dengan tidak boleh menyalahkan apa yang guru katakan, berkomentar dan menyanggah diperbolehkan asalkan berdasarkan peraturan. Selanjutnya dalam bertanya kepada guru mengenai hal yang tidak dipahami, dalam hal ini murid tidak danjurkan untuk bertanya sebelum gurunya memang menawarkan dan mengizinkannya serta harus ditandai dengan mengacungkan tangan sebagai tanda penghormatan untuk bertanya, dan yang terakhir bisa diterapkan pada saat memperhatikan materi dari guru seorang murid tidak boleh mengobrol dengan teman sebangkunya. Selain itu, dengan menunjukan kesesuaian mengenai adab guru dan murid dalam kitab Bidayatul Hidayah dengan materi akidah akhlak yang ada di Madrasah Ibtidaiyah kelas satu ini, kitab bidayah bisa digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. maka kitab bidayah bisa digunakan sebagai bahan ajar di sekolah DAFTAR PUSTAKA Abdullah. 2016. Adab Guru terhadap Murid dalam Persepektif Kitab Bidayatul Hidayah Karangan Imam Al-Ghazali Ainiyah, N. 2013. Pembentukan karakter melalui pendidikan agama Islam. Al-Ulum, 131, 25-38. Al-Attas, S. M. N. 1992. Konsep Pendidikan dalam Islam. Penerjemah Haidar Bagir. Bandung Mizan. Bungin, M. B. 2008. Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Komunikasi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta Kencana. Gogo, J. O. 2020. The Contribution of Education to Moral Decay in Kenya Challenges and Prospects. International Journal of Educational Humanities and Social Science, 31, 20-32. Iim Fitriyani, Asis Saefuddin, Sani Insan Muhammadi/ AL-TARBIYAH, Vol. 30 No. 2, December 2020, 150-159 Accepted Novembe1 11th, 2020. Approved December 11th, 2020. Published December, 2020 159 Hanafi, H. 2017. Urgensi Pendidikan Adab dalam Islam. Saintifika Islamica Jurnal Kajian Keislaman, 41, 59-78. Wijaya, H. 2019. Analisis Data Kualitatif Sebuah Tinjauan Teori & Praktik. Sekolah Tinggi Theologia Jaffray. Kemendiknas. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter. Jakarta, Indonesia Kemendiknas. Maragustam Siregar. 2010. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta UIN Sunan Kalijaga. 35-36. Muhamadi, S., & Hasanah, A. 2019. Penguatan Pendidikan Karakter Peduli Sesama melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Relawan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 161, 95-114. Mutamakkin, Y. A. 2012. Terjemah Kitab Bidayatul Hidayah. PT Karya Toha Pustaka semarang. Nasif, M. 2018. Bidayatul Hidayah Terjemah dan penjelasannya. Kediri Pustaka Isyfa"lana. Nata, A. 2001. Persefektif Islam tentang pola HUbungan Guru-Murid . Jakarta Raja Grafindo. Noer, M. A., & Sarumpaet, A. 2017. Konsep Adab Peserta Didik dalam Pembelajaran Menurut Az-Zarnuji dan Implikasinya terhadap Pendidikan Karakter di Indonesia. Al-Hikmah Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan, 142, 181-208. Raharjo, S. B. 2010. Pendidikan karakter sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 163, 229-238. Ramadhan, B. 2020, March 06. Guru Tewas Dianiaya Siswa, Indonesia Krisis Keteladanan. Retrieved from Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif dan R&D. Bandung Alpabheta. Zed, M. 2008. Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta Yayasan Obor Indonesia. ... Diskusi merupakan sebuah metode pembelajaran yang sangat baik untuk diterapkan dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan. Walaupun demikian dalam berdiskusi hendaknya masingmasing peserta tetap memperhatikan adab-adabnya Fitriyani, 2020. Pertama memulai diskusi dengan mengutamakan sikap husnuzhan terhadap semua peserta, karena berbaik sangka akan membantu peserta diskusi bersikap lebih objektif terhadap pendapat orang lain. ...Erna DewitaFadil MaiseptianMurisal MurisalZuwirda ZuwirdaAllah SWT dan Rasul-Nya menyeru manusia kepada jalan kebaikan. Dalam menyampaikan seruan tersebut hendaklah dilakukan dengan cara hikmah dan pelajaran yang baik. Cara tersebut dilakukan dalam bentuk pendidikan dan pelayanan bimbingan konseling. Pendidikan membentuk kepribadian manusia sehingga memiliki kematangan intelektual, emosional, spiritual maupun sosial. Bimbingan konseling merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan untuk membantu menangani atau mengatasi masalah individu agar tercapai perkembangan potensi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan dan bimbingan konseling Islam dalam surat An-Nahl ayat 125. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bil-hikmah bijaksana, al-mauidzah al-hasanah nasehat dan pelajaran yang baik, mujadalah billati hiya ahsan bertukar fikiran dalam pendidikan dan bimbingan konseling merupakan metode terbaik yang harus dipahami dan dipraktekkan oleh guru muupun konselor. Kata Kunci Pendidikan, Konseling, An-Nahl 125 Sani Insan MuhamadiAan HasanahThe purpose of this study is to reveal the results of character building process in caring for others through volunteer extracurricular activities. The method which is used is descriptive analytical with a qualitative approach. Data collection techniques are observation, interview and documentation studies. Findings of this study The process of strengthening character is carried out with routine training every week, monthly scheduled is cleaning river, mosques and the surrounding environment, and incidental activities to provide assistance to areas affected by natural and humanitarian disasters. The result is students show a stronger caring character. Supporting factors in strengthening the character are the vision and mission and also goals of the madrasa, exemplary teachers and staff, activities carried out in schools, and involvement in community activities. While the obstruct factors are the lack of funds to carry out activities, and the factor of parental permission in dissaster Budi RaharjoEducation is basically an effort to improve human resource capacity in order to become a man with characters and live independently. Based on this, the main problem in this study is whether moral education can realize the noble morality? From the formulation of the problem, the purpose of this study is to determine how education can affect noble morality. Building the national character through education is absolutely necessary, even can not be postponed. Character education can be effective and successful if performed integrally starting from the home environment, schools and communities. Characters that should be instilled to students include love of God and the universe and its contents, responsibility, discipline and self-reliant, honest, respectful and well mannered, affectionate, caring, and cooperation, confidence, creative, hard work and do not give up easily, fair and has a character of a leader, nice and humble, and tolerance, love peace and unity. While the noble morality is the overall human habit comes from within encouraged by conscious desire and reflected by good deeds. Thus, if the noble characters embedded in the learners themselves, noble character will automatically be reflected in the behavior of students in their daily life. ABSTRAK Pendidikan pada dasarnya adalah upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya dapat menjadi manusia yang memiliki karakter dan dapat hidup mandiri. Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah apakah pendidikan karakter dapat mewujudkan akhlak mulia? Dari rumusan masalah tersebut, tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendidikan karakter dapat mempengaruhi akhlak mulia. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda. Pendidikan karakter dapat berjalan efektif dan berhasil apabila dilakukan secara integral dimulai dari lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karakter yang harus ditanamkan kepada peserta didik di antaranya adalah; cinta kepada Allah dan alam semesta beserta isinya, tanggungjawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan toleransi, cinta damai dan persatuan. Sedangkan akhlak mulia adalah keseluruhan kebiasaan manusia yang berasal dalam diri yang di dorong keinginan secara sadar dan dicerminkan dalam perbuatan yang baik. Dengan demikian apabila karakter-karakter yang luhur tertanam dalam diri peserta didik maka akhlak mulia secara otomatis akan tercermin dalam perilaku peserta didik dalam kehidupan Pendidikan Adab dalam IslamH HanafiHanafi, H. 2017. Urgensi Pendidikan Adab dalam Islam. Saintifika Islamica Jurnal Kajian Keislaman, 41, Acuan Pendidikan KarakterKemendiknasKemendiknas. 2010. Kerangka Acuan Pendidikan Karakter. Jakarta, Indonesia Pendidikan Islam. Yogyakarta UIN Sunan KalijagaMaragustam SiregarMaragustam Siregar. 2010. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta UIN Sunan Kalijaga. Kitab Bidayatul Hidayah. PT Karya Toha Pustaka semarangY A MutamakkinMutamakkin, Y. A. 2012. Terjemah Kitab Bidayatul Hidayah. PT Karya Toha Pustaka Hidayah Terjemah dan penjelasannya. Kediri Pustaka Isyfa"lanaM NasifNasif, M. 2018. Bidayatul Hidayah Terjemah dan penjelasannya. Kediri Pustaka Isyfa" Islam tentang pola HUbungan Guru-Murid . Jakarta Raja GrafindoA NataNata, A. 2001. Persefektif Islam tentang pola HUbungan Guru-Murid. Jakarta Raja Tewas Dianiaya Siswa, Indonesia Krisis KeteladananB RamadhanRamadhan, B. 2020, March 06. Guru Tewas Dianiaya Siswa, Indonesia Krisis Keteladanan. Retrieved from nasional/politik/18/02/06/p3ppr033 0-guru-tewaMetode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif dan R&DSugiyonoSugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif dan R&D. Bandung Alpabheta. - Adik-adik dalam kesempatan kali ini kita akan membahas tentang adab murid terhadap guru dalam kitab Ihya Ulumuddin. Adab murid terhadap guru merupakan suatu hal yang menjadi sorotan dalam era saat ini. Banyak sekali kita dengar perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh seorang murid terhadap gurunya. Padahal kita semua tahu bahwa guru adalah orang tua kita yang harus kita hormati, seperti kita menghormati ayah dan ibu. Beliau merupakan salah satu orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Lalu, bagaimana adab murid terhadap guru dalam kitab Ihya Ulumuddin. Simak penjelasannya berikut ini ! Baca Juga 10 Hadits Tentang Adab Terhadap Guru yang Perlu Kamu Ketahui Adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin yaitu 1. Mendahulukan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dan tercela Adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin yang pertama yaitu mendahulukan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dan sifat-sifat yang tercela. Hal ini bertujuan untuk memperoleh ilmu dalam kondisi suci batin, tidak dalam sifat hina dan tercela. Baca Juga Apakah Anak Perempuan Membuka Pintu Surga untuk Ayahnya? Ini 2 Hadits Penjelasannya 2. Menghindari hal-hal yang buruk Adab murid terhadap guru yang kedua yaitu menghindari hal-hal yang buruk. Hal buruk yang dimaksud adalah keterpautan dengan urusan dunia. Dengan meninggalkan urusan dunia, murid akan lebih fokus dalam menuntut ilmu. 3. Tidak sombong Adab murid yang ketiga yaitu tidak sombong. Tidak sombong karena ilmunya yang dimiliki saat ini lebih tinggi dari gurunya dan tidak menentang guru namun diserahkan semua urusan kepada gurunya. Rasulullah SAW. bersabda yang artinya sebagai berikut Terkini

adab murid terhadap guru dalam kitab ihya ulumuddin